| Deraphukum.click | KabupatenJeneponto adalah daerah yang kaya akan nilai, sejarah, dan potensi. Masyarakat Turatea dikenal religius, memiliki ikatan sosial yang kuat, serta mewarisi semangat kerja keras yang telah teruji oleh waktu. Namun di tengah dinamika pembangunan nasional yang bergerak cepat, Jeneponto masih dihadapkan pada kenyataan tertinggalnya sejumlah sektor penting dibandingkan dengan banyak daerah lain di Indonesia. Kondisi ini tidak untuk disesali, melainkan untuk dijadikan titik tolak melakukan pembenahan secara jujur, terarah, dan berkelanjutan agar Jeneponto mampu menata masa depannya secara lebih baik.
Pembangunan Jeneponto harus dimulai dari cara pandang bahwa manusia adalah pusat dari seluruh proses perubahan.
Jalan, gedung, dan infrastruktur fisik hanya akan bermakna jika dikelola oleh manusia yang berpengetahuan, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap kemajuan bersama. Karena itu, pendidikan harus menjadi fondasi utama pembangunan daerah. Pendidikan yang dibutuhkan bukan semata-mata yang melahirkan ijazah, tetapi yang membentuk kepribadian, etos kerja, dan daya pikir kritis. Sekolah, madrasah, dan pesantren perlu diperkuat kualitasnya agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya siap bersaing, tetapi juga siap mengabdi untuk daerahnya sendiri.
Di bidang ekonomi, Jeneponto sesungguhnya memiliki kekuatan besar yang selama ini belum dikelola secara optimal. Pertanian, peternakan, dan potensi kelautan merupakan sumber penghidupan utama masyarakat. Tantangan yang dihadapi bukan ketiadaan sumber daya, melainkan rendahnya nilai tambah dan lemahnya sistem pengelolaan. Pembangunan ekonomi ke depan harus berorientasi pada pemberdayaan rakyat, dengan mendorong penguatan petani dan peternak melalui pendampingan, akses permodalan yang adil, serta pengembangan produk olahan lokal.
Ketika masyarakat diberi ruang untuk tumbuh dan mandiri, maka kesejahteraan akan tercipta secara lebih merata dan berkelanjutan.
Pembangunan infrastruktur tetap memiliki peran penting, tetapi harus ditempatkan sebagai sarana pelayanan publik dan penggerak ekonomi, bukan semata proyek fisik. Infrastruktur yang baik akan membuka keterisolasian desa, memperlancar distribusi hasil produksi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan harus direncanakan dengan mendengar suara rakyat, agar benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Infrastruktur yang dibangun dengan pendekatan keadilan dan pemerataan akan menjadi jembatan menuju pertumbuhan yang inklusif.
Kemajuan daerah juga sangat ditentukan oleh kualitas tata kelola pemerintahan.
Pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang hadir, melayani, dan dipercaya oleh masyarakatnya. Aparatur pemerintah harus bekerja dengan profesionalisme, integritas, dan kepekaan sosial. Ketika birokrasi mampu memberikan pelayanan yang adil dan transparan, maka kepercayaan publik akan tumbuh, dan masyarakat akan terdorong untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan.
Kepercayaan inilah yang menjadi modal sosial paling berharga bagi kemajuan Jeneponto.
Dalam konteks masyarakat yang religius seperti Jeneponto, nilai-nilai keagamaan memiliki peran strategis dalam mengarahkan pembangunan. Agama bukan hanya sumber ritual, tetapi juga sumber etika sosial dan moral publik. Dakwah perlu diarahkan pada penguatan akhlak, etos kerja, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.
Pendekatan dakwah yang menyejukkan dan solutif akan membantu masyarakat menghadapi berbagai persoalan sosial, mulai dari kemiskinan, pendidikan anak, hingga tantangan generasi muda. Sinergi antara tokoh agama, lembaga dakwah, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar pembangunan berjalan seimbang antara aspek lahiriah dan batiniah.
Peran generasi muda tidak boleh diabaikan dalam upaya menata masa depan Jeneponto. Mereka adalah pewaris sekaligus penentu arah pembangunan ke depan. Anak-anak muda perlu diberi kepercayaan, ruang berekspresi, serta kesempatan untuk berinovasi.
Dengan bimbingan yang tepat, generasi muda Jeneponto akan tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri, kreatif, dan berdaya saing, tanpa tercerabut dari akar budaya dan nilai lokalnya.
Menjadikan Jeneponto sejajar dengan daerah-daerah maju di Indonesia bukanlah pekerjaan satu pihak atau satu periode kepemimpinan.
Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesadaran bersama, kerja kolektif, dan komitmen lintas generasi. Dengan menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, memberdayakan ekonomi rakyat, membangun infrastruktur yang adil, memperbaiki tata kelola pemerintahan, serta menguatkan nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal, Jeneponto memiliki peluang besar untuk bangkit dan maju. Harapan ini bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah cita-cita yang dapat diwujudkan apabila seluruh elemen masyarakat berjalan seiring, saling menguatkan, dan memiliki visi yang sama tentang masa depan daerah yang lebih sejahtera dan bermartabat. (Nursalim)

