KARAWANG,Jawa Barat | deraphukum.click | Di sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan bangsa, Rumah Sejarah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok, pelantikan pengurus DPC Pejuang Siliwangi Indonesia Bersatu (PSIB) Kabupaten Karawang periode 2026–2031 berlangsung dengan nuansa berbeda, Selasa (17/3/2026).
Tak sekadar seremoni organisasi, acara ini menjadi pertemuan antara sejarah, nilai perjuangan, dan harapan masa depan.
Di tempat yang erat kaitannya dengan detik-detik menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, para tokoh PSIB berkumpul, seakan menegaskan kembali bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar usai—ia hanya berganti bentuk.

Ketua DPC PSIB Karawang, H. Maslani, yang juga menjabat Wakil Bupati Karawang, berdiri di hadapan para undangan dengan nada penuh optimisme. Ia menyadari, amanah yang diembannya bukan sekadar jabatan organisasi.
“Insya Allah amanah ini saya terima dan akan saya jalankan dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan organisasi dan masyarakat Karawang,” ujar Maslani.
Pelantikan ini, menurutnya, sempat tertunda selama beberapa bulan. Namun justru penantian itu menjadi ruang untuk mempersiapkan langkah yang lebih matang.
“Yang baik kita lanjutkan, yang kurang kita perbaiki. Kita harus maju bersama,” katanya menegaskan.
Di sela suasana formal, Maslani sempat mencairkan suasana dengan cerita pribadinya. Ia mengaku telah tinggal di Karawang sejak 2001.

“Saya sudah 25 tahun di Karawang, sudah minum air Karawang, walaupun bahasa Sunda belum lancar,” ucapnya sambil tersenyum, disambut tawa ringan para hadirin.
Sementara itu, Ketua DPD PSIB Jawa Barat, Brigjen TNI (Purn) H. Kemal Hendrayadi, S.I.P., membawa para hadirin menengok lebih jauh ke belakang—ke akar sejarah Siliwangi yang membentuk identitas organisasi.
“Siliwangi adalah napak tilas perjuangan, dari Tanggul Buana hingga Masjid Agung Karawang. Ini bukti sejarah yang harus kita jaga,” ujarnya.
Bagi Kemal, nama Siliwangi bukan sekadar simbol. Ia adalah representasi nilai yang diwariskan dari masa Kerajaan Pajajaran hingga perjuangan kemerdekaan.
Ia mengingatkan bahwa organisasi ini memiliki perjalanan panjang sejak 1922, dari pencak silat hingga terlibat dalam dinamika perjuangan bangsa melalui TKR yang kini menjadi TNI.
Namun, di tengah perkembangan zaman, ia menegaskan satu hal yang tidak boleh hilang: keseimbangan antara nilai budaya dan struktur organisasi.
“Kultur adalah jati diri kita, sedangkan struktur adalah posisi kita dalam organisasi. Keduanya harus berjalan bersama,” tegasnya.
Kemal juga menggarisbawahi empat nilai utama yang harus dijaga setiap anggota: kepatuhan, kesetiaan, keteguhan, dan keikhlasan.
“Berorganisasi di Siliwangi harus dimaknai sebagai ibadah,” tambahnya.
Suasana menjadi lebih reflektif ketika putri pendiri PSIB, Edeh L. Puradireja, menyampaikan sambutannya. Dengan nada penuh penghormatan, ia mengajak seluruh hadirin untuk tidak melupakan sejarah panjang yang melatarbelakangi lahirnya organisasi.
“Saya masih sangat bangga dengan sejarah dan perjuangan yang diwariskan oleh para pendahulu kita,” ujarnya.
Ia kemudian mengisahkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun tentang Ama R. Oetje Poeradireja dan perannya menjelang Proklamasi Kemerdekaan.
Kisah itu, meski tidak banyak tercatat dalam buku sejarah arus utama, menjadi pengingat bahwa peran tokoh lokal tidak bisa dipandang sebelah mata.
Lebih dari itu, Edeh menekankan nilai pengabdian tanpa pamrih yang menjadi fondasi perjuangan.
“Beliau menolak gaji sebagai veteran. Yang penting Indonesia merdeka dan kemerdekaan itu harus dijaga,” tuturnya.
Di tengah dinamika organisasi masa kini, ia mengingatkan agar nilai-nilai itu tidak luntur.
“PSIB harus menjunjung silih asih, silih asah, silih asuh, dan menjadi contoh yang baik bagi masyarakat,” tegasnya.
Pelantikan ini dihadiri sejumlah tokoh, mulai dari jajaran pengurus PSIB Jawa Barat hingga tokoh masyarakat dan ulama.
Kehadiran mereka mempertegas bahwa PSIB bukan hanya organisasi, tetapi juga bagian dari jaringan sosial dan budaya masyarakat.
Lebih dari sekadar pergantian kepengurusan, momentum ini menjadi titik awal untuk memperkuat peran PSIB di tengah masyarakat—sebagai penjaga nilai, penguat persatuan, sekaligus mitra dalam pembangunan daerah.
Dari Rengasdengklok, pesan itu terasa jelas: sejarah bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk dijaga dan dilanjutkan.
(Lukman.NH)

