Ambon,Maluku | Deraphuum.click | Gelombang keresahan melanda masyarakat Kota Ambon hingga ke pelosok kabupaten dan kecamatan. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir bukan lagi sekadar isu, melainkan realitas pahit yang dirasakan langsung oleh rakyat kecil. Antrean panjang di SPBU, aktivitas ekonomi yang tersendat, hingga meningkatnya beban hidup masyarakat menjadi potret nyata dari krisis yang kian mengkhawatirkan ini.
Sejak pagi buta hingga larut malam, warga rela mengantre berjam-jam hanya demi mendapatkan beberapa liter BBM. Para pengemudi angkutan umum terpaksa kehilangan penghasilan karena waktu habis di jalan untuk mengantre.
Nelayan tidak bisa melaut karena kekurangan bahan bakar, sementara pelaku usaha kecil mulai menjerit karena distribusi barang terhambat. Ini bukan sekadar kelangkaan—ini adalah ancaman terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Maluku.
Di tengah situasi yang kian memanas, masyarakat mempertanyakan kehadiran dan ketegasan pemerintah daerah. Rakyat membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan—mereka menuntut aksi nyata. Pemerintah tidak boleh diam ketika denyut nadi kehidupan masyarakat terganggu. Ketegasan, keberanian, dan langkah cepat menjadi harga mati dalam menghadapi krisis ini.
Secara intelektual, kelangkaan BBM ini harus dilihat sebagai kegagalan dalam sistem distribusi dan pengawasan. Apakah terjadi penimbunan? Apakah distribusi tidak merata? Atau ada permainan oknum yang mengambil keuntungan di tengah penderitaan rakyat? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab dengan transparansi dan tindakan hukum yang tegas. Tidak boleh ada ruang bagi mafia BBM yang mempermainkan kebutuhan dasar masyarakat.
Lebih jauh, pemerintah daerah dituntut untuk segera berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk Pertamina dan aparat penegak hukum. Langkah-langkah konkret seperti operasi pasar, pengawasan distribusi secara ketat, serta penindakan terhadap pelaku penimbunan harus segera dilakukan. Ini bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal keberpihakan kepada rakyat.
Dari sisi emosional, suara rakyat hari ini adalah suara yang penuh kelelahan dan kekecewaan. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya kepastian. Kepastian bahwa mereka bisa bekerja, bisa menghidupi keluarga, dan tidak terus-menerus dihantui oleh ketidakpastian energi. Ketika kebutuhan dasar seperti BBM menjadi barang langka, maka sesungguhnya negara sedang diuji dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Momentum ini harus menjadi titik balik. Pemerintah daerah tidak boleh lagi bersikap pasif.
Kepemimpinan diuji bukan saat keadaan normal, tetapi saat krisis melanda.
Ketegasan hari ini akan menentukan kepercayaan masyarakat esok hari.
Rakyat Ambon dan seluruh wilayah Maluku kini menunggu—bukan janji, tetapi bukti. Mereka ingin melihat pemerintah hadir di tengah mereka, bekerja nyata, dan memastikan bahwa krisis ini segera berakhir.
Karena pada akhirnya, negara yang kuat bukan hanya diukur dari kebijakan, tetapi dari keberpihakannya kepada rakyat yang paling membutuhkan.
(E.Rahman kalauw)

