KARAWANG,Jawa Barat | Deraphukum.click | Kehadiran aplikasi TANGKAR milik Pemerintah Kabupaten Karawang dinilai sebagai langkah positif dalam mendekatkan layanan publik kepada masyarakat melalui kanal digital. Untuk memastikan kematangannya sebagai platform yang menghimpun data warga, diperlukan penguatan pada sisi keamanan, terutama tata kelola backend dan konfigurasi aplikasi.
Analisis keamanan independen menilai fondasi aplikasi sudah berada di jalur yang benar, dengan sejumlah catatan penguatan pada tata kelola backend dan konfigurasi aplikasi yang sebagian besar mudah diterapkan.
Hal tersebut disampaikan Jejen Jaenudin, SM., M.Kom., Konsultan dan Tim IT PT GOKAR Digital Inovasi Nusantara, setelah melakukan telaah terhadap aspek keamanan aplikasi TANGKAR.
TANGKAR yang tersedia di Google Play Store diposisikan sebagai pintu masuk berbagai layanan warga Kabupaten Karawang, mulai dari berita, informasi, layanan publik, lowongan kerja, hingga pengaduan dan program stunting.
Inisiatif tersebut dinilai mencerminkan upaya memperluas akses layanan masyarakat berbasis digital sekaligus menjadi bagian dari perkembangan transformasi pelayanan publik di Kabupaten Karawang.
Fondasi Keamanan Dinilai Sudah Baik
Menurut Jejen, aplikasi telah menerapkan sejumlah praktik keamanan yang tepat. Di antaranya penggunaan versi Android terkini sebagai target, mekanisme penandatanganan aplikasi modern, proteksi anti-pembajakan bawaan Google Play, serta konfigurasi rilis yang tidak berada dalam mode debug.
“Fondasinya sudah berada di jalur yang benar. Catatan yang ada sifatnya penyempurnaan, bukan membongkar dari nol,” ujar Jejen Jaenudin.
Ia menilai penguatan keamanan merupakan bagian dari proses pengembangan layanan digital pemerintah yang perlu dilakukan secara berkelanjutan, terlebih ketika aplikasi digunakan untuk menyediakan berbagai layanan yang berkaitan dengan masyarakat.
Tata Kelola Backend Jadi Prioritas Penguatan
Catatan yang paling disarankan untuk diprioritaskan justru berada di sisi server atau backend, yang tidak dapat dipastikan hanya dari aplikasi.
Jejen menjelaskan bahwa perlindungan data warga sangat bergantung pada aturan akses basis data cloud yang digunakan oleh aplikasi. Karena itu, pengelola perlu memastikan konfigurasi keamanan di sisi server telah benar-benar diperketat.
“Selama aturan aksesnya diperketat dan mewajibkan autentikasi, data warga aman. Yang kami sarankan adalah memastikan konfigurasi itu benar-benar terkunci, ini praktik standar dan mudah dilakukan.”
Jejen menegaskan, catatan tersebut bersifat pencegahan dan rekomendasi penguatan, bukan pernyataan bahwa telah terjadi kebocoran data warga.
Ia menyebut konfigurasi backend perlu diverifikasi secara langsung oleh pengelola aplikasi untuk memastikan sistem telah memberikan perlindungan yang sesuai.
Saran pada Konfigurasi Aplikasi dan Perlindungan Data
Selain backend, Jejen menyarankan agar fitur pencadangan data aplikasi dinonaktifkan secara eksplisit atau dikonfigurasi dengan aturan yang lebih ketat.
Kunci akses layanan cloud juga disarankan dibatasi berdasarkan identitas aplikasi. Sejumlah izin aplikasi, termasuk akses lokasi dan penyimpanan, perlu ditinjau kembali agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan layanan.
Langkah tersebut mengikuti prinsip hak akses minimal, sehingga aplikasi hanya meminta akses yang memang diperlukan.
Terkait penggunaan layanan notifikasi pihak ketiga, Jejen juga menyarankan penguatan dari sisi tata kelola, termasuk kajian dampak pelindungan data dan kebijakan privasi yang transparan.
Hal tersebut penting untuk memastikan pengelolaan data pengguna tetap memperhatikan ketentuan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.
Klaim “Super-App” Dilihat sebagai Peluang Pengembangan
Mengenai penyebutan TANGKAR sebagai super-app, Jejen menilai secara teknis aplikasi saat ini lebih tepat digambarkan sebagai portal layanan terpadu.
“Ini bukan kekurangan keamanan, melainkan soal penamaan. Untuk menjadi super-app sepenuhnya, biasanya ada identitas tunggal warga dan kerangka mini-aplikasi. Itu bisa menjadi peta jalan pengembangan berikutnya.”tegasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat dilihat sebagai peluang pengembangan arsitektur aplikasi ke depan, bukan sebagai kegagalan.
Pengembangan selanjutnya dapat diarahkan pada integrasi identitas tunggal warga, layanan yang lebih modular, serta integrasi antarlayanan sehingga pengalaman masyarakat menjadi lebih terintegrasi.
Rekomendasi Bertahap
Jejen merekomendasikan sejumlah langkah perbaikan secara bertahap. Tahap awal dapat dilakukan dengan memprioritaskan audit dan penguncian aturan akses backend, menonaktifkan atau memperketat pencadangan data, serta membatasi kunci akses layanan cloud.
Selanjutnya, pengelola dapat melakukan peninjauan izin aplikasi, penguatan komunikasi terenkripsi, pemeriksaan keamanan WebView, serta penyelarasan arsitektur aplikasi.
“Sebagian besar bisa dikerjakan tanpa mengubah pengalaman pengguna.”ungkapnya.
Menurut Jejen, keamanan aplikasi bukan pekerjaan sekali selesai. Pengelola perlu melakukan pemantauan dan pengujian secara berkala seiring bertambahnya fitur dan jumlah pengguna.
Founder GOKAR Dorong Pemberdayaan Talenta IT Lokal Karawang
Founder aplikasi GOKAR, Syuhada Wisastra, turut menyoroti pentingnya pemberdayaan sumber daya manusia di bidang teknologi informasi yang berasal dari Karawang.
Menurut Syuhada, pengembangan dan pengamanan aplikasi layanan publik dapat menjadi momentum untuk melibatkan tenaga IT lokal yang memiliki kompetensi, sekaligus mendorong efisiensi anggaran daerah.
“Alangkah baiknya tenaga-tenaga IT asli Karawang yang memiliki kemampuan dan kompetensi juga diberdayakan. Saya yakin masih banyak talenta lokal yang mampu mengerjakan kebutuhan teknologi seperti pengembangan, pemeliharaan maupun pengamanan aplikasi. Selain memberdayakan SDM daerah, tentu bisa menjadi pilihan yang lebih efisien dari sisi biaya, sehingga anggaran yang dikeluarkan tidak harus besar untuk melibatkan pihak dari luar,” ujar Syuhada Wisastra.
Syuhada menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku teknologi lokal, akademisi, dan komunitas IT dapat menjadi bagian dari ekosistem digital Karawang.
Dengan demikian, pengembangan teknologi tidak hanya menghasilkan layanan digital bagi masyarakat, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya talenta dan industri teknologi lokal.
Membangun Layanan Digital Adalah Proses Berkelanjutan
Jejen menutup dengan catatan bahwa membangun layanan digital publik merupakan proses berkelanjutan. Menurutnya, peluncuran aplikasi merupakan tahap awal yang perlu diikuti dengan komitmen menjaga keamanan dan perlindungan data.
“Peluncuran aplikasi itu awal yang baik. Yang menentukan adalah komitmen memelihara keamanan dan perlindungan datanya. Karawang sudah memulai langkah yang tepat,” pungkasnya.
Hak Jawab Pemkab Karawang
Redaksi mengonfirmasi kepada Diskominfo Kabupaten Karawang dan pengelola aplikasi TANGKAR terkait hasil analisis serta rekomendasi penguatan keamanan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, apabila belum terdapat tanggapan, Pemkab Karawang belum memberikan keterangan resmi atas catatan tersebut.
Oleh Redaksi | Sumber: Jejen Jaenudin, SM., M.Kom., Konsultan dan Tim IT PT GOKAR Digital Inovasi Nusantara | Syuhada Wisastra, A.Md., CHRM., Founder GOKAR |
(Red)

