Oleh: Lazuardi Tahta Ainullah | DerapHukum.click | Konsep Society 5.0 kerap dielu-elukan sebagai jawaban atas kompleksitas zaman. Teknologi diposisikan sebagai mitra manusia, bukan penguasa, dengan janji besar menghadirkan kehidupan yang lebih manusiawi, efisien, dan berkeadilan.
Namun, di tengah gegap gempita inovasi dan digitalisasi, muncul satu pertanyaan mendasar yang patut direnungkan: apakah manusia—khususnya mahasiswa—benar-benar menjadi pusat dari kemajuan tersebut, atau justru terseret arus dan perlahan kehilangan nilai-nilai dasarnya?
Mahasiswa hari ini hidup dalam lanskap digital yang serba cepat. Informasi mengalir tanpa henti, keputusan diambil dalam hitungan detik, dan keberhasilan kerap diukur dari capaian instan. Tidak mengherankan jika pola pikir pragmatis tumbuh subur. Segala aktivitas dinilai dari manfaat jangka pendek: apa untungnya, apa hasilnya, dan seberapa cepat dapat diperoleh. Cara pandang ini perlahan merembes ke hampir seluruh aspek kehidupan kampus, termasuk organisasi kemahasiswaan.
Organisasi mahasiswa yang dahulu menjadi ruang pembentukan karakter, latihan kepemimpinan, dan pembelajaran sosial, kini kerap kehilangan ruhnya. Tidak sedikit yang tereduksi menjadi formalitas administratif, sekadar pelengkap portofolio, atau batu loncatan menuju kepentingan personal. Ketika organisasi tidak lagi menjanjikan keuntungan langsung, sebagian mahasiswa memilih menjauh. Dari sinilah degradasi budaya organisasi bermula—bukan karena organisasi kehilangan peran, melainkan karena maknanya tak lagi dipahami.
Namun, menyalahkan mahasiswa sepenuhnya tentu merupakan cara pandang yang terlalu sederhana. Pragmatisme tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari sistem pendidikan yang menekankan capaian angka, dari dunia kerja yang menuntut efisiensi ekstrem, serta dari budaya kompetisi yang menekan generasi muda untuk selalu “siap pakai”. Dalam tekanan semacam itu, idealisme kerap dianggap sebagai kemewahan yang tidak relevan dengan realitas.
Meski demikian, membiarkan pragmatisme menjadi satu-satunya kompas arah merupakan pilihan yang berbahaya. Mahasiswa tidak dilahirkan semata-mata untuk menjadi roda penggerak industri.
Sejarah mencatat, perubahan sosial besar kerap berangkat dari kampus—dari ruang diskusi, organisasi, dan gerakan mahasiswa. Peran sebagai agent of change menuntut keberanian moral, kepekaan sosial, serta kesediaan untuk terlibat aktif, bukan sekadar unggul secara individual.
Di sinilah organisasi mahasiswa seharusnya kembali menemukan relevansinya. Organisasi bukan pesaing teknologi, melainkan penyeimbangnya. Di dalamnya, kepemimpinan tidak hanya diajarkan sebagai konsep abstrak, tetapi dipraktikkan melalui tanggung jawab nyata.
Komunikasi tidak berhenti pada pesan singkat di layar, melainkan diuji lewat dialog, perbedaan pendapat, dan kerja kolektif. Berpikir kritis pun tidak lahir dari algoritma, melainkan dari keberanian mempertanyakan arus utama serta membaca realitas secara lebih mendalam.
Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, semestinya memperluas daya pikir manusia, bukan menggantikannya. Ketika mahasiswa menyerahkan sepenuhnya nalar dan sikap kritis kepada teknologi, yang terjadi bukanlah kemajuan peradaban, melainkan kemiskinan kesadaran. Kampus berisiko melahirkan generasi yang cakap secara teknis, tetapi rapuh secara etis dan sosial.
Society 5.0 pada hakikatnya menawarkan pilihan, bukan kepastian. Ia bisa menjadi ruang pembebasan, atau justru jebakan baru yang membius kesadaran. Semua bergantung pada bagaimana manusia—terutama mahasiswa—menyikapinya.
Apakah teknologi digunakan sebagai alat untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, atau dijadikan tujuan yang justru menggeser makna hidup itu sendiri.
Opini ini berpijak pada keyakinan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh kecanggihan mesin, melainkan oleh kualitas karakter manusia yang mengendalikannya. Jika mahasiswa ingin tetap relevan di tengah perubahan zaman, maka kebangkitan budaya organisasi, penguatan soft skills, serta keberanian untuk bersikap kritis harus kembali menjadi agenda utama. Tanpa itu, Society 5.0 hanya akan tinggal jargon besar—maju secara teknologi, tetapi miskin secara nilai.
(Lazuardi Tahta Ainullah)

