Jakarta | Deraphukum.click | Selasa,16 September 2025 Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengumumkan rencana pemerintah untuk membagikan 330 ribu unit televisi pintar (smart TV) ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui teknologi digital dan memfasilitasi pembelajaran jarak jauh, khususnya di daerah yang memiliki keterbatasan akses internet atau fasilitas pendukung lainnya.
Dalam sambutannya, Prabowo menyatakan bahwa teknologi saat ini memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. “Kami ingin memastikan setiap anak Indonesia memiliki akses yang setara terhadap pendidikan yang berkualitas. Salah satu langkah yang kami tempuh adalah dengan menyediakan sarana yang mendukung proses pembelajaran, termasuk perangkat teknologi yang tepat,” ujar Prabowo.
Tujuan Program
Program distribusi televisi pintar ini dirancang untuk menjawab tantangan akses pendidikan di era digital. Televisi pintar dipilih karena dianggap sebagai perangkat yang mudah diakses dan lebih terjangkau untuk banyak sekolah, terutama di wilayah pedesaan atau daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Selain itu, televisi pintar dapat digunakan untuk mengakses konten pembelajaran secara daring, menonton video edukasi, serta menyelenggarakan pembelajaran berbasis aplikasi.
Melalui program ini, diharapkan kualitas pengajaran dapat meningkat, serta menciptakan kesempatan bagi siswa dan guru untuk memanfaatkan sumber daya digital secara maksimal. Pemerintah berharap, dengan adanya televisi pintar di sekolah, proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif.
Tanggapan dari Berbagai Pihak
Meskipun program ini mendapatkan perhatian luas, berbagai pihak mengungkapkan pendapat beragam terkait dengan keefektifan dan relevansi distribusi televisi pintar di sekolah-sekolah. Beberapa pihak mendukung program ini sebagai langkah positif untuk memajukan pendidikan, namun ada juga yang meragukan apakah pembagian televisi pintar benar-benar menyelesaikan masalah mendasar dalam dunia pendidikan Indonesia.
1. Pendukung Teknologi dalam Pendidikan
Sejumlah pengamat pendidikan mendukung program ini, dengan menilai bahwa pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dapat meningkatkan akses siswa terhadap materi pelajaran yang lebih kaya. “Televisi pintar bisa menjadi sarana untuk memfasilitasi metode pembelajaran yang lebih inovatif, seperti pembelajaran video, presentasi interaktif, dan bahkan kelas daring. Ini akan membantu siswa lebih memahami materi yang sulit dengan cara yang lebih menarik,” kata Prof. Siti Nurhayati, seorang ahli pendidikan dari Universitas Indonesia.
2. Kritik tentang Ketimpangan Infrastruktur
Namun, sejumlah kritikus menyarankan agar program ini mempertimbangkan berbagai aspek lain yang lebih mendasar, seperti infrastruktur internet yang masih belum merata di seluruh Indonesia. “Distribusi televisi pintar tidak akan efektif jika akses internet di daerah-daerah tersebut terbatas. Kita perlu memastikan bahwa infrastruktur digital sudah memadai terlebih dahulu sebelum mengalokasikan perangkat-perangkat mahal ini ke sekolah-sekolah,” ujar Dedi Pratama, seorang pakar teknologi pendidikan.
Banyak daerah terpencil masih kesulitan mengakses internet dengan kecepatan tinggi, yang dapat membatasi potensi televisi pintar sebagai alat pendidikan yang efektif. Oleh karena itu, beberapa pihak menyarankan agar pemerintah juga memperkuat jaringan internet dan fasilitas pendukung lainnya, seperti pelatihan guru dalam memanfaatkan teknologi secara optimal.
3. Tantangan Sosial Ekonomi
Selain itu, ada pula yang mempertanyakan apakah 330 ribu televisi pintar cukup efisien untuk menyentuh seluruh siswa di Indonesia. Mengingat tidak semua sekolah memiliki anggaran yang cukup untuk merawat atau memperbarui perangkat teknologi, beberapa pihak mengkhawatirkan bahwa distribusi televisi pintar justru tidak akan cukup untuk mencakup kebutuhan seluruh siswa, terutama di daerah yang memiliki masalah ekonomi.
Apa yang Diharapkan dari Program Ini?
Keberhasilan program ini sangat tergantung pada sejauh mana pemerintah dapat memastikan bahwa perangkat teknologi yang dibagikan dapat dimanfaatkan dengan baik. Pengawasan yang ketat terhadap distribusi dan penggunaan televisi pintar, serta pelatihan guru untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam pembelajaran, akan sangat menentukan apakah program ini dapat memberikan dampak positif dalam dunia pendidikan.
Pemerintah juga perlu memperhatikan aspek lain yang tidak kalah penting, seperti penyediaan konten pendidikan yang berkualitas dan relevan, serta dukungan untuk infrastruktur pendukung seperti listrik dan koneksi internet yang memadai.
Kesimpulan
Program distribusi televisi pintar ke sekolah-sekolah Indonesia yang digagas oleh Presiden Prabowo memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama di daerah-daerah yang kesulitan mengakses teknologi. Namun, efektivitasnya bergantung pada penyelesaian berbagai tantangan yang ada, terutama terkait dengan infrastruktur internet, pelatihan guru, dan kesesuaian anggaran untuk perawatan perangkat. Jika aspek-aspek tersebut dapat diatasi, program ini berpotensi membawa dampak positif bagi pendidikan di Indonesia. (Red)

