Batam,Kepulauan Riau | Deraphukum.click | Menyongsong bulan suci Ramadhan, Perkumpulan Muballigh Batam menegaskan pentingnya revitalisasi bahasa dan strategi komunikasi dakwah sebagai fondasi membangun kesadaran spiritual masyarakat. Momentum Ramadhan dinilai bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang transformasi sosial yang memerlukan pendekatan dakwah yang kontekstual, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ketua Afiliasi Pengajar Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni, dan Desain Provinsi Kepulauan Riau menyampaikan bahwa Ramadhan adalah momentum intensifikasi ibadah sekaligus penguatan solidaritas sosial. Di kota industri seperti Batam, yang dihuni masyarakat multietnis dan beragam latar sosial, tantangan dakwah semakin kompleks. Mobilitas ekonomi yang tinggi serta dinamika kehidupan urban menuntut pola komunikasi dakwah yang lebih strategis dan membumi.
Menurutnya, bahasa dalam dakwah tidak pernah netral. Pilihan diksi, struktur kalimat, dan gaya retorika seorang muballigh memiliki kekuatan membentuk persepsi serta memengaruhi cara pandang jamaah. Oleh sebab itu, revitalisasi bahasa dakwah menjadi kebutuhan mendesak. Dakwah yang berkualitas bukan hanya bertumpu pada kekayaan dalil, tetapi juga pada kecermatan dalam menyampaikan pesan secara jernih, sistematis, dan menyentuh sisi kemanusiaan.
Dalam konteks masyarakat urban, dakwah Ramadhan harus mampu merespons realitas keseharian jamaah, mulai dari etos kerja, integritas profesional, hingga tanggung jawab sosial. Muballigh tidak cukup menyampaikan teks normatif semata, melainkan perlu menafsirkan nilai-nilai Islam dalam bingkai kehidupan modern yang dinamis dan pragmatis.
Strategi komunikasi yang efektif, lanjutnya, menuntut integrasi antara kedalaman substansi dan ketepatan metode. Ceramah Ramadhan idealnya memiliki bangunan narasi yang runtut: pembukaan yang menggugah, penguatan dalil yang argumentatif, analisis kontekstual yang relevan, serta penutup yang aplikatif dan inspiratif. Struktur yang sistematis mencerminkan kedisiplinan berpikir dan memudahkan jamaah memahami esensi pesan.
Selain komunikasi mimbar, tantangan dakwah digital juga menjadi perhatian serius. Media sosial dan platform daring telah menjadi ruang publik baru yang tak terbatas. Di satu sisi, hal ini membuka peluang penyebaran pesan secara luas; di sisi lain, berpotensi memunculkan distorsi makna. Karena itu, muballigh dituntut lebih berhati-hati dalam merumuskan pernyataan, mempertimbangkan akurasi, konteks, dan dampaknya terhadap harmoni sosial.
Dalam masyarakat yang majemuk, bahasa dakwah harus bersifat inklusif dan menenangkan. Ramadhan adalah bulan rahmat dan persatuan, bukan polarisasi. Retorika yang mengedepankan empati, dialog, dan penghargaan terhadap keberagaman diyakini akan memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi dakwah. Profesionalitas muballigh diuji melalui kemampuannya menjaga keseimbangan antara ketegasan prinsip dan kelembutan pendekatan.
Lebih jauh, kualitas komunikasi dakwah juga sangat bergantung pada integritas pribadi muballigh. Bahasa yang lahir dari ketulusan akan lebih mudah menyentuh hati pendengar. Nilai-nilai Ramadhan seperti kejujuran, kesabaran, dan pengendalian diri harus tercermin dalam tutur kata dan sikap komunikatif para dai.
Perkumpulan Muballigh Batam pun diharapkan mampu membangun standar komunikasi dakwah yang bermutu melalui sinergi tema, kesamaan visi, dan koordinasi program selama Ramadhan. Dengan strategi yang matang dan etika komunikasi yang kokoh, dakwah tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi gerakan moral berkelanjutan yang memperkuat peradaban.
Pada akhirnya, bahasa dan komunikasi merupakan jantung dakwah. Melalui keduanya, nilai-nilai Ilahiah diterjemahkan ke dalam realitas sosial yang konkret. Menyongsong Ramadhan berarti mempersiapkan diri secara spiritual sekaligus intelektual. Dengan bahasa yang jernih, santun, dan argumentatif, Perkumpulan Muballigh Batam optimistis dapat menjadikan bulan penuh berkah sebagai titik tolak penguatan masyarakat yang religius, harmonis, dan berintegritas. (Nursalim)

