BANDUNG,Jawa Barat | Deraphukum.click | Pemerintah Kota Bandung menegaskan komitmen menjadikan literasi sebagai sarana penguatan daya pikir kritis dan pemulihan psikologis warga melalui pengembangan ekosistem buku yang lebih merata dan mudah diakses di seluruh kota, pada hari Kamis (23/1/2026).
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan komitmen tersebut saat menghadiri BFC Talks di Perpustakaan Ajip Rosidi yang dihadiri para pegiat literasi dan tokoh publik.
Farhan menilai Kota Bandung memiliki modal kuat karena ditopang puluhan perguruan tinggi berkualitas nasional yang selama ini membentuk ekosistem pengetahuan yang hidup.
“Kota Bandung itu harus jadi kota tempat pengembangan literasi. Artinya,
kita sudah punya modal ekosistem yang sangat jadi, tinggal memastikan ekosistem ini tidak terbuang percuma,” kata Farhan.
Ia menekankan literasi tidak berhenti pada fungsi pengetahuan, melainkan berdampak langsung pada kehidupan warga melalui aktivitas membaca atau membacakan cerita sebagai proses pemulihan trauma.
Farhan menjelaskan pendekatan tersebut lazim digunakan di wilayah bencana, dan dapat diterapkan di Kota Bandung yang memiliki tingkat stres masyarakat cukup tinggi.
Dalam paparannya, Farhan menyebut tiga tanggung jawab pemerintah, yakni memastikan buku menjadi media penyimpanan memori kolektif Kota Bandung, menjamin ketersediaan serta akses buku, dan membiasakan budaya membaca melalui format fisik maupun digital.
Di sisi lain, Ketua Komisi XIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Willy Aditya, menilai kondisi literasi nasional berada pada situasi darurat meskipun angka melek huruf mencapai 98 persen untuk huruf dan di atas 92 persen untuk angka.
“Basisnya tentu objektif. Angka melek huruf kita tinggi, tapi kalau bicara literasi, kondisinya sangat darurat,” kata Willy.
Willy menegaskan literasi mencakup kemampuan memahami informasi, membangun ekosistem perbukuan yang sehat, dan menumbuhkan daya pikir kritis masyarakat.
“Yang paling tinggi dari literasi itu adalah berpikir kritis dan di situlah problem kita sekarang. Kita bisa lihat sendiri toko-toko buku banyak yang gulung tikar,” ujarnya.
Farhan menilai diskusi dengan para pemangku kepentingan menjadi ruang untuk menyatukan gagasan agar ekosistem literasi Kota Bandung menghasilkan manfaat sosial yang dapat dirasakan seluruh warga.
Editor: Diskominfo Kota Bandung.
(D.Fer-Kaperwil)

