Brebes,Jawa Tengah | Deraphukum.click | Antusiasme masyarakat pecinta sepak bola memadati Lapangan Asri Bumiayu, Kabupaten Brebes, saat Grand Final Arsyila Farm Cup Championship 2026 digelar pada Sabtu (16/5/2026). Turnamen sepak bola akar rumput tersebut berlangsung meriah dan mendapat perhatian besar dari masyarakat Brebes selatan.
Suasana pertandingan semakin semarak dengan kehadiran pelatih nasional Indonesia, Indra Sjafri, yang turut menyaksikan laga final sekaligus bersilaturahmi dengan insan sepak bola di wilayah tersebut. Kehadiran pelatih yang dikenal sukses melahirkan sejumlah pemain muda Tim Nasional Indonesia itu langsung menyedot perhatian pemain, pelatih, pegiat sepak bola lokal, hingga para penonton.
Momen tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya pembinaan usia dini sebagai fondasi pembangunan sepak bola nasional. Dalam kesempatan itu, Indra Sjafri menegaskan bahwa potensi pemain muda Indonesia sangat besar dan tersebar di berbagai daerah.

Pada partai puncak, Bambu Kuning menghadapi Ceisya Jaya Farm dalam pertandingan yang berlangsung ketat sejak menit awal. Kedua tim tampil agresif demi merebut gelar juara perdana turnamen tersebut.
Laga berakhir imbang 1-1 hingga waktu normal usai sehingga pemenang harus ditentukan melalui adu penalti. Dalam drama tos-tosan tersebut, Bambu Kuning akhirnya keluar sebagai juara setelah unggul atas Ceisya Jaya Farm.
Usai pertandingan, Indra Sjafri menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan sepak bola usia muda di daerah, khususnya di Kabupaten Brebes. Dalam konferensi pers yang berlangsung di Grand Dian Hotel, ia menegaskan bahwa pembinaan sepak bola nasional tidak boleh hanya terpusat di kota-kota besar.
Menurutnya, daerah seperti Bumiayu memiliki banyak talenta potensial yang membutuhkan perhatian serta sistem pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.
“Potensi pemain muda Indonesia sangat besar dan tersebar di 38 provinsi. Saya melihat atmosfer sepak bola di daerah seperti Bumiayu ini sangat baik. Anak-anak memiliki semangat bermain yang tinggi, masyarakat juga antusias mendukung. Tinggal bagaimana pembinaannya dilakukan secara serius, konsisten, dan berkelanjutan,” ujar Indra Sjafri.

Pelatih yang pernah membawa Timnas Indonesia meraih berbagai prestasi di level usia muda itu menilai pembangunan sepak bola tidak dapat dilakukan secara instan. Berdasarkan pengalamannya menangani Timnas U-16 hingga U-23, terdapat lima pilar utama yang harus menjadi dasar pembinaan sepak bola nasional.
Kelima aspek tersebut meliputi infrastruktur, kurikulum pembinaan, pengembangan pelatih, pengembangan pemain, serta kompetisi yang berjenjang dan berkesinambungan. Ia menegaskan seluruh elemen tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Fokus pembangunan, lanjutnya, tidak semata-mata pada pembangunan stadion besar, melainkan juga penyediaan lapangan latihan yang mudah diakses anak-anak untuk beraktivitas dan bermain sepak bola sejak usia dini.
“Infrastruktur yang saya maksud bukan hanya membangun stadion besar. Yang paling penting adalah menyediakan lapangan latihan yang mudah diakses anak-anak untuk bermain dan bergerak. Calon atlet harus tumbuh dengan aktivitas fisik yang baik sejak usia dini. Dari situlah fondasi kemampuan sepak bola mereka terbentuk,” katanya.
Selain infrastruktur, kualitas pelatih juga dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kemampuan pemain muda. Menurut Indra Sjafri, pemain usia U-15 hingga U-23 membutuhkan pendampingan dari pelatih yang kompeten, memahami perkembangan usia muda, serta memiliki wawasan sepak bola modern.
Ia juga menekankan pentingnya proses seleksi pemain yang profesional dan objektif tanpa dipengaruhi unsur kedekatan pribadi maupun pilih kasih.
“Jangan ada pilih kasih dalam pembinaan pemain. Semua harus berdasarkan kualitas dan kemampuan. Anak-anak muda membutuhkan ruang kompetisi yang sehat dan objektif. Kalau proses pembinaan dilakukan secara benar, saya yakin daerah seperti Brebes juga bisa melahirkan pemain untuk level nasional,” tegasnya.
Apresiasi turut disampaikan terhadap penyelenggaraan Arsyila Farm Cup Championship 2026 yang dinilai mampu menjadi wadah positif bagi lahirnya bibit-bibit pesepak bola potensial dari daerah. Turnamen seperti ini, menurutnya, memiliki peran strategis dalam menjaga atmosfer kompetisi usia muda sekaligus menjadi sarana pencarian bakat.
Indra Sjafri berharap penyelenggaraan kompetisi serupa ke depan dapat dikembangkan lebih besar, baik dari sisi jumlah peserta maupun format pertandingan, agar pemain memiliki jam terbang lebih tinggi.
“Ke depan jangan hanya 32 tim dengan sistem gugur. Jumlah peserta bisa diperbanyak agar semakin banyak pemain muda mendapat kesempatan tampil dan berkembang. Kompetisi usia muda sangat penting karena dari situlah mental bertanding pemain terbentuk,” ujarnya.
Dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan sepak bola juga dinilai penting, mulai dari penyediaan fasilitas olahraga, pembinaan kompetisi rutin, hingga dukungan terhadap sekolah sepak bola dan komunitas lokal.
“Yang paling penting adalah kebersamaan semua pihak. Pemerintah daerah, pelatih, klub, masyarakat, dan sponsor harus bergerak bersama mendukung pembinaan sepak bola usia muda. Kalau ekosistemnya berjalan baik, saya yakin akan lahir pemain-pemain berkualitas dari daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Arsyila Farm Cup Championship 2026, Samsul Khaerudin, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan turnamen yang untuk pertama kalinya digelar di Lapangan Asri Bumiayu.
Ia mengaku tidak menyangka antusiasme masyarakat begitu tinggi sejak awal kompetisi hingga partai final. Menurutnya, Arsyila Farm Cup bukan sekadar ajang pertandingan, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarpemain, klub, dan masyarakat pecinta sepak bola di wilayah Brebes selatan.
“Kami bersyukur turnamen ini berjalan lancar dan mendapat dukungan luar biasa dari masyarakat,” ujar Samsul.
Kehadiran Indra Sjafri, lanjutnya, menjadi kebanggaan sekaligus motivasi besar bagi pemain muda di daerah. Panitia berharap kompetisi tersebut dapat menjadi agenda rutin tahunan guna mendukung pembinaan sepak bola usia dini di Kabupaten Brebes.
Evaluasi terhadap penyelenggaraan turnamen juga akan terus dilakukan agar kompetisi berikutnya dapat berlangsung lebih baik, lebih kompetitif, serta menjangkau peserta dari lebih banyak daerah.
Apresiasi serupa disampaikan tokoh sepak bola tarkam nasional, Agen Agung. Menurutnya, kompetisi seperti Arsyila Farm Cup memiliki peran penting dalam menjaga gairah sepak bola daerah sekaligus menjadi ruang lahirnya pemain-pemain potensial.
Tingginya antusiasme masyarakat, kata dia, menjadi bukti bahwa sepak bola masih menjadi olahraga yang mampu menyatukan berbagai kalangan.
“Turnamen seperti ini sangat positif karena menjadi wadah bagi pemain muda untuk menunjukkan kemampuan mereka. Atmosfernya luar biasa, masyarakat juga sangat antusias. Ini menjadi bukti bahwa sepak bola daerah masih hidup dan punya masa depan yang baik jika terus didukung bersama,” ungkapnya.
(W.AK)

