Purwakarta, Jawa Barat | Deraphukum.click | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan alasan di balik rencana pemerintah untuk menghentikan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Singapura. Saat ini, impor BBM dari Singapura masih mendominasi hingga mencapai 54% dari total impor nasional.
Bahlil menyampaikan bahwa sejak dirinya menjabat sebagai Menteri ESDM, ia telah melakukan evaluasi terhadap berbagai produk impor, termasuk BBM. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa harga pembelian BBM dari Singapura ternyata setara dengan harga dari kawasan Timur Tengah.
“Setelah saya cek, kok harganya sama dengan negara-negara di Timur Tengah. Ya, kalau begitu, kita mulai berpikir — bahkan hampir pasti — untuk mengambil minyak dari negara lain, bukan dari sana lagi,” ujar Bahlil saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (23/5/2025).
Ia menargetkan, dalam waktu enam bulan ke depan, rencana pengalihan impor BBM dari Singapura ke negara lain bisa segera direalisasikan. Untuk mendukung hal itu, Pertamina sedang membangun dermaga besar yang bisa dilalui kapal-kapal berbobot jumbo.
“Kalau dari Singapura kan kapalnya kecil-kecil, itu juga jadi salah satu pertimbangannya. Jadi kita bangun pelabuhan besar supaya bisa sekali angkut dalam jumlah besar, tanpa kendala. Maka pelabuhannya harus diperluas, dan kedalamannya dijaga,” jelasnya.
Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor BBM tersebut ke Amerika Serikat. Keputusan ini merupakan bagian dari strategi negosiasi Indonesia dalam merespons kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump.
“Ya, sebagian kita alihkan ke Amerika. Kita sudah punya perjanjian dengan mereka. Salah satu poinnya adalah bahwa kita harus membeli beberapa produk mereka, di antaranya BBM, crude, dan LPG,” tutup Bahlil.(Kabiro-Redaksi)

