Pekalongan, Jawa Tengah | Deraphukum.click | 5 Mei 2025, Suasana meriah menyelimuti Desa Kaibahan, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, saat warga menggelar pertunjukan wayang kulit dalam rangka tradisi ruwatan dan sedekah bumi pada Minggu malam. Acara yang berlangsung di balai desa ini disambut antusias oleh ratusan warga dari berbagai penjuru.
Pertunjukan wayang kulit dipimpin oleh dalang kondang Ki Mangun Yuwono, yang membawakan lakon Sri Wahyu Mahkota Rama. Kisah tersebut sarat akan nilai-nilai moral dan filosofi, menyampaikan pesan tentang kesederhanaan, pengabdian, dan keharmonisan hidup.
Acara ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, termasuk Camat, Kapolsek, jajaran Forkopimda, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tokoh masyarakat lainnya. Salah satu momen penting dalam acara ini adalah penyerahan simbolis wayang kulit dari Kepala Desa Kaibahan, Sri Puji Erwani, kepada Ki Mangun Yuwono.
Sri Puji Erwani menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tradisi turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur warga atas hasil bumi dan keselamatan desa.
“Sedekah bumi dan ruwatan ini adalah bentuk doa bersama agar desa tetap tenteram, subur, dan dijauhkan dari segala mara bahaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kegiatan ini adalah wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Kami menyebutnya sebagai Tasyakuran Legenonan atau Sedekah Bumi, yang digelar setiap tahun.”
Dalam acara ini, warga menikmati hiburan wayang kulit dengan lakon Sri Wahyu Mahkota Rama. Tujuannya adalah memohon keberkahan, keselamatan, serta hasil panen yang lebih baik di masa depan. Dana kegiatan ini diperoleh dari swadaya masyarakat.
“Dengan adanya acara ini, kami berharap dapat meningkatkan kesejahteraan dan keselamatan masyarakat, serta memohon perlindungan dari Allah SWT. Doa bersama juga dipanjatkan untuk mendoakan para almarhum dan almarhumah,” imbuhnya.
Selain pertunjukan wayang kulit, rangkaian kegiatan sedekah bumi juga meliputi doa bersama, kirab tumpeng, dan hiburan rakyat. Warga bergotong royong menyiapkan segala keperluan acara, menjadikannya momen kebersamaan dan pelestarian budaya yang penuh makna.
Acara berlangsung hingga dini hari dengan tertib dan khidmat. Pemerintah desa berharap tradisi ini terus dilestarikan oleh generasi muda sebagai bagian dari warisan budaya yang memperkuat jati diri dan solidaritas masyarakat desa.(ARIYANTO)

